Tampilkan postingan dengan label mancanegara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mancanegara. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Februari 07, 2009

Nasib Naas Menimpa Wartawan Srilanka

Nasib Naas Menimpa Wartawan Srilanka

Memasuki tahun 2009, nasib naas menimpa wartawan di Srilanka. Sedikitnya telah terjadi dua insiden tergadap wartawan di negara tersebut.
Upali Thenakoon, salah seorang redaktur dari surat kabar mingguan Rivira yang berbahasa Sinhala, ditikam diwajah dan kemudian diserang oleh satu kelompok penyerang yang naik sepeda motor pada saat dia berangkat kerja, Jumat, 23 Januari 2009. Isterinya juga mengalami cedera ketika dia berusaha melindungi sang suami.
Serangan yang sama berupa pembunuhan juga terjadi dua pekan sebelumnya terhadap pemimpin redaksi Sunday, Lasantha Wickramatunga, yang juga dicegat dalam perjalanan ke tempat kerjanya oleh orang-orang yang mengendarai sepeda motor.
Pembunuhan itu terjadi hanya beberapa hari setelah orang-orang bersenjata merusak studio utama MBC, radio swasta terbesar di Srilangka.
Media di Srilanka mengemukakan bahwa Srilangka mempunyai sejarah panjang aksi kekerasan terhadap para wartawan, dan para penyerangnya jarang diseret ke pengadilan.
Kendati demikian, Presiden Srilangka Mahinda Rajapaksa telah berjanji sejak pembunuhan Wickramatunga, untuk mengubah hal itu dan para tersangka telah ditahan dalam kasus MBC.

AS “Terkejut”

Amerika Serikat (AS) mengata-kan, pihaknya “dikejutkan” oleh aksi kekerasan terhadap wartawan di Srilangka tersebut (kasus penikaman terhadap redaktur surat kabar mingguan Rivira).
“AS dikejutkan oleh berlangsungnya serangan-serangan fisik dan ancaman terhadap insan pers di Srilangka,” kata penjabat juru bicara Deplu AS, Robert Wood, dalam pernyatannya.
“Ini adalah laporan serius yang bisa menyebabkan memburuknya kondisi kebebasan media di Srilangka,” ujarnya.
Deplu AS menyeru pemerintah Srilangka untuk melindungi seluruh warganya dengan menegakkan hukum dan peraturan, mencegah terjadinya intimidasi terhadap media, serta bertindak cepat melakukan penyelidikan berkaitan serangan-serangan terhadap para wartawan dan penduduk sipil lain. (ant)

Wartawan Radio Ditembak Mati di Filipina

Wartawan Radio Ditembak Mati di Filipina

Filipina adalah salah satu dari tempat-tempat paling berbahaya di dunia bagi wartawan. Berdasarkan catatan Perhimpunan Wartawan Nasional di Filipina, lima wartawan dibunuh pada tahun 2008, dan tercatat 59 wartawan tewas sejak tahun 2001.
Peristiwa terbaru terjadi pada minggu ketiga Januari 2009. Polisi setempat melaporkan, dua pria bersenjata menembak mati seorang komentator radio di Filipina selatan. Ini adalah kasus kematian pertama wartawan di negara tersebut tahun ini.
Badrodin Abbas diserang dua penumpang Rabu malam, 21 Januari 2009, ketika ia naik sebuah minibus yang biasanya dioperasikan oleh saudaranya.
“Kami masih berusaha menyelidiki apakah pembunuhan itu ada kaitannya dengan pekerjaannya sebagai wartawan,” kata Willie Dangane, kepala kepolisian di Kota Cotabato di pulau Mindanao, Filipina selatan.
Dia mengatakan bahwa pihak kepolisian mendengar adanya rumor bahwa saudara kandung Badorin Abbas sebelumnya menerima ancaman pembunuhan.
Seorang Muslim, Abbas mengguna-kan program radionya untuk mempro-mosi satu perjanjian wilayah yang diusulkan antara Manila dan gerilyawan Moro yang berjuang untuk mendirikan sebuah negara selama 40 tahun.
Satuan tugas pemerintah yang menyelidiki pembunuhan-pembunuhan terhadap wartawan mengecam pembunuhan komentator radio itu.
Oleh karena dikecam kelompok-kelompok hak asasi manusia lokal dan internasional, pemerintah Filipina berikrar untuk mengejar dan menangkap para pembunuh wartawan, namun sejauh ini hanya sedikit yang dihukum. (ant/rtr)

Obama Sapa Wartawan di Media Centre

Obama Sapa Wartawan di Media Centre

Pada hari kedua berkantor di Gedung Putih, Presiden Amerika Serikat (AS), Barack Obama, melakukan kunjungan mendadak ke area kerja sayap barat Gedung Putih.
“Senang melihat kalian. Saya cuma ingin mengucapkan ‘halo’,” kata Obama kepada para wartawan.
Obama lalu menuju ruang media, tempat kerja wartawan yang nge-pos di Gedung Putih. Para wartawan mulai berlarian ke arah Obama, khawatir kalau-kalau ketinggalan perkataan Obama walaupun hanya satu kata.
Satu wartawan yang terlambat mengejar Obama, bertanya pada rekannya apa yang sedang mereka kejar. Jawab rekannya, “The big guy (si pemimpin).”
Dia tak mengira kalau ruangan untuk para wartawan itu begitu sempit.
“Saya harus bilang, ruangan ini lebih kecil dari yang saya kira,” katanya sambil melihat ke sekeliling ruangan.
Presiden berusia 47 tahun itu memperkenalkan diri pada mereka yang belum dia kenal selama rangkaian kampanye dan mengaku butuh waktu untuk mengingat masing-masing nama.
Obama melanjutkan perjalanan ke outlet media, masih di lantai yang sama. Obama bertanya tentang alasan mengapa media tertentu memiliki ruang kerja tertentu.
Ketika jawaban yang dia dapat ternyata melibatkan urusan protokoler yang rumit, Obama merespon: “Di sini lebih buruk dibanding di Timur Tengah, siapa duduk di mana dan hal-hal semacam itu.”
Seorang wartawan Politico, Jonathan Martin, kemudian coba-coba bertanya kepada Obama mengenai peluang William Lynn sebagai nominator Deputi Menteri Pertahanan, namun Obama tak mau menjawab dan malah berseloroh.
“Saya ke sini untuk melihat-lihat. Saya tidak selesai mengunjungi kalian dan berjabat tangan dengan kalian kalau saya terus-menerus ditanyai hal-hal seperti itu tiap kali saya turun ke sini,” ujarnya.
“Oke, ayo,” kata Obama lalu meletakkan tangannya ke pundak reporter itu.
“Kami akan mengadakan konferensi pers. Saat itu kalian bebas bertanya. Sekarang saya hanya ingin menyapa kalian dan memperkenalkan diri saya. Itu saja yang ingin saya lakukan di sini,” ujarnya.
Obama yang didampingi beberapa staf gedung putih juga sempat bercanda dengan wartawan yang mengerumuninya. Seorang jurnalis dari CBS News, Mark Knoller bertanya kepada sang presiden soal lapangan basket di Gedung Putih.
“Saya belum mencobanya. Di luar terlalu dingin,” kata Obama sambil tersenyum.
Dia juga menambahkan, lapangan itu telah selesai direnovasi dan siap untuk digunakan. Selain itu, Obama juga bercerita soal lapangan tenis.
Saat Obama berjalan menyusuri tempat makan siang para wartawan, dia melihat sepasang mesin otomatis yang menyediakan minuman soda dan makanan cepat saji.
“Guys, sepertinya kalian butuh makanan ringan yang lebih sehat,” katanya sambil melirik para wartawan. (int)